The Twins: Hunian Mini di Tengah Riuhnya Perkampungan Kota

Hunian mini The Twins dibangun di atas lahan 70 meter persegi di tengah kawasan hunian padat. Akses untuk masuk ke rumah ini hanya bisa menggunakan motor.

The Twins hunian mini

The Twins hunian mini

Berlokasi di Cipulir, Jakarta Selatan, sebuah hunian ‘nyentrik’ berdiri. Hunian mini ini bernama The Twins, rumah tersebut merupakan garapan firma arsitektur asal Jakarta yakni Delution. Pada gelaran Architizer Awards 2020, The Twins meraih penghargaan untuk kategori Small Architecture + Small Living by People Choice.

Alasan hunian mini The Twins begitu dilirik oleh publik hingga internasional karena rumah tersebut menjadi bukti bahwa wilayah sempit bukan halangan untuk membangun hunian yang nyaman.

The Twins dibangun di atas lahan 70 meter persegi di tengah kawasan hunian padat. Bahkan akses masuk rumah hanya dapat dilewati oleh sepeda motor.

Sesuai dengan namanya, hunian mini The Twins terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Walaupun kedua bangunan ini terpisah, namun Delution membuatnya tetap terhubung dan tidak benar-benar tertutup. Alasannya agar tetap menjaga privasi masing-masing keluarga yang pemiliknya merupakan dua keluarga kakak beradik, serta agar sirkulasi udara berjalan baik dan ramah lingkungan dengan adanya area resapan.

Rumah mungil ini dibangun menggunakan konsep “rumah tumbuh” yang dalam arti kedua bangunan tersebut tidak dibangun dalam waktu yang bersamaan. Delution memaparkan, rumah tersebut dibangun melalui tiga tahapan pembangunan yang berbeda.

“Kami sadar membangun rumah memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk menyiasatinya, kami mencoba merancang rumah tumbuh yang pembangunannya dapat dilakukan secara bertahap. The Twins mulai dirancang bangun tahun 2019, fase pertama dengan budget 150 juta, fase kedua meliputi pembangunan atap dan menghabiskan budget 200 juta, sedangkan fase terakhir memakan biaya 100 juta,” ungkap Delution. Walaupun dibangun dalam tiga tahap berbeda, hasil akhirnya tetap tampak menyatu karena rancangan yang matang.

Selain konsep “rumah tumbuh”, ukuran kedua rumah pun berbeda. Rumah pertama memiliki satu kamar tidur, ruang keluarga, dan kamar mandi. Sedangkan rumah kedua berupa bangunan dua lantai yang dapat ditempati banyak penghuni.

Yang membuat The Twin semakin unik adalah penerapan dry garden yang ditanami pohon tumbuh menjulang menembus atap. Selain memberikan kesan asri, akses bagi cahaya dan udara bisa masuk dengan baik melalui taman mini kecil tersebut.

Pemilihan lantai semen ekspos untuk The Twins juga tidak tanpa alasan, tujuannya adalah agar lebih ekonomis, kuat terhadap daya tekan, memberikan kesan edgy serta modern pada hunian.

The Twins dibangun dengan metode konstruksi konvensional yang dapat dibangun secara mandiri dengan material lokal yang mudah ditemukan di sekitar. “Kami berharap rumah ini dapat menjadi contoh yang akan menjadi penyemangat bagi kemajuan wajah serta kualitas hidup perkampungan kota yang semula terabaikan,” ujar Delution.

Selain diganjar penghargaan, The Twins nantinya akan dipublikasikan dengan karya pemenang Architizer Awards dalam buku kompendium bertajuk Architizer: The World’s Best Architecture yang diterbitkan oleh Phaidon, penerbit global untuk seni kreatif di seluruh dunia. Buku ini rencananya akan diterbitkan pada awal tahun 2021.

Exit mobile version